kata hati

Khalil Gibran

Home > Suara Hati > Kemana engkau akan membawaku?

Kemana engkau akan membawaku?

kata hatiBarangkali apa yang kurasakan saat ini tergambar dalam rangkaian kata hati yang dituliskan Khalil Gibran dalam bukunya Secrets of the heart. Aku sangat menikmati bab yang satu ini, seperti membaca kisah sendiri. Mencoba menafsirkan apa yang dirasakan Khalil Gibran ketika menulis ini, merefleksikan terhadap apa yang kurasakan sekarang.

Gadis Cantik Yang Menawan

Kemanakah engkau menuntunku wahai Gadis Cantik Yang Menawan, dan berapa lamakah aku harus mengikutimu di jalan yang kasar ini, yang penuh dengan duri? Berapa lamakah jiwa kita naik turun secara menyakitkan di jalan berkelok – kelok serta berbatu – batu ini?

Seperti seorang anak yang mengikuti ibunya, aku mengikuti engkau, memegangi ujung pakaiannmu, melupakan impian – impianku dan memandangi kecantikanmu, membutakan mataku dibawah tenungmu terhadap hantu – hantu yang melayang – layang diatasku, dan tertarik kepadamu oleh kuasa batinku yang tidak dapat kusangkal.

Berhentilah sejenak dan biarlah kulihat wajahmu; pandanglah aku sejenak; mungkin aku akan mengetahui rahasia hatimu lewat matamu yang asing. Berhenti dan beristirahatlah, sebab aku letih, dan jiwaku gemetar dengan ketakutan di jalan yang mengerikan ini. Berhentilah, sebab kita telah sampai di persimpangan jalan yang mengerikan itu dimana Maut merangkul Kehidupan.

Wahai Gadis Cantik, dengarkanlah aku. Sebelumnya, aku bebas seperti burung, menjelajahi lembah – lembah serta hutan – hutan, dan terbang diatas langit luas. Menjelang malam aku beristirahat di dahan – dahan pohon, merenungkan bait – bait serta istana – istana di Kota Awan Berwarna – warni yang dibangun oleh Matahari di pagi hari dan dihancurkan menjelang senja.

Sebelumnya aku seperti pikiran, berjalan sendirian dan berdamai dengan Timur maupun Barat Alam Semesta, bersukacita dengan keindahan dan sukacita Kehidupan, dan menyelidiki misteri keberadaan yang luar biasa.

Sebelumnya aku seperti mimpi, mencuri di balik sayap- sayap ramah malam, masuk lewat jendela – jendela tertutup ke dalam kamar – kamar padar gadis, menggoda serta membangkitakan pengharapan mereka. Lalu aku duduk disamping para pemuda dan kubangkitkan hasrat – hasrat mereka. Lalu kujelajahi kamar – kamar para manula dan kutembus pikiran mereka yang penuh kecukupan diri yang damai.

Lalu engkau menangkap khayalanku, dan semenjak saat yang menghipnotis itu aku merasa seperti tawanan yang menyeret belenggunya dan terdororng ke dalam tempat yang tidak kukenal. Aku menjadi mabuk dengan anggurmu yang manis yang telah mencuri kehendakku, dan sekarang kutemukan bibirku mengecup tangan yang memukulku dengan keras. Tidak dapatkah engkau lihat dengan mata jiwamu, hancurnya hatiku? Berhentilah sejenak; aku sedang mengumpulkan kembali kekuatanku dan melepaskan kaki – kakiku yang letih dari rantai – rantai yang berat. Telah kuhancurkan cawan dari mana kuminum racunmu yang nikmat. Tetapi sekarang aku berada di negeri yang asing, dan bingung; jalan manakah yang harus kutempuh?

Kebebasanku telah dipulihkan; maukah engkau sekarang menerimaku sebagai sahabat yang rela, yang memandang Matahari dengan mata bersinar – sinar dan mencengkram api dengan jari – jemari yang tidak gemetar?

Telah kulepaskan sayap – sayapku dan aku siap naik; maukah engkau menemani seorang pemuda yang menghabiskan hari – harinya menjelajahi pegungungan seperti rajawali tunggal, dan menyia – nyiakan malam – malamnya mengembara di padang gurun seperti singa yang gelisah?

Maukah engaku mencukupkan dirimu dengan kasih sayang dia yang memandang Kasih hanya sebagai penghibur, dan tidak mau menerimanya sebagai tuannya?

Maukah engaku menerima hati yang mengasihi, tetapi tidak pernah berserah? Dan membakar tetapi tidak meluluhkan? Akankah engkau tentram dengan jiwa yang bergetar dihadapan badai, tetapi tidak pernah menyerah kepadanya? Maukah engaku menerima seseorang sebagai sahabat, yang tidak memperbudak maupun mau diperbudak? Maukah engaku memilikiku tetapi tidak menguasaiku, dengan mengambil tubuhku tetapi tidak hatiku?

Kalau mau, inilah tanganku – peganglah dengan tanganmu yang indah dan inilah tubuhku – rangkullah dia dengan lenganmu yang penuh kasih; dan inilah bibirku – kecuplah mereka dengan kecupan yang dalam serta memabukkan.

Dari: Kata Hati, Secrets of the heart (Khalil Gibran)
  1. April 15th, 2009 at 09:15 | #1

    Ke manakah engkau akan membawaku? Ini melampaui sebuah pertanyaan, tetapi sebuah hakikat dari cinta. Cinta membimbing kita masuk jauh ke dasar jiwa pencinta. Salam..mari kita berbagi cerita. Kris Bheda

    • April 15th, 2009 at 09:51 | #2

      Terimakasih bang Kris komentnya, sesuai dugaanku sebelumnya komentarnya begitu mendalam.
      Saya akan sering mengunjungi blog nya bang Kris. Saya ingin belajar banyak dari bang Kris,
      walaupun hanya lewat tulisan.

      • April 16th, 2009 at 15:53 | #3

        Bung, saya menjawab pertanyaan bung lewat blong ini saja. Pertanyaan ini sangat reflektif, sehingga untuk menjawabnya pun butuh pemaknaan yang mendalam.

        Bagi saya, seberapa besarnya luka yang kita alamai karena cinta, seberapa sakit, menderita dan bahkan mati karena cinta, cinta tetaplah cinta. Cinta melampaui semua duka manusia. Cinta menghanyutkan kita serentak itu pula ia menyelematkan kita.

        Antara cinta dan nestapa, cinta dan luka, cinta dan derita tidak sepadan. Cinta adalah cinta.

      • April 16th, 2009 at 18:32 | #4

        Kalau cinta adalah cinta, dan cinta tidak sepadan dengan semua duka manusia.
        Apakah cinta yang saya miliki belum merupakan cinta ketika duka yang disebabkannya tidak bisa saya pahami?

  1. No trackbacks yet.