Archive

Archive for the ‘Dari buku’ Category

Paulo Coelho

November 16th, 2011 No comments

Paulo CoelhoSiapakah Paulo Coelho?

Aku pertama kali mengetahui nama Paulo Coelho dari novelnya yang sangat fenomenal Sang Alkemis. Bukan karena sudah tahu dari awal bahwa bukunya tersebut bagus, tetapi karena penasaran saja. Sepenggal kalimat dari novelnya yang membuatku penasaran “jika kamu memimpikan sesuatu, seluruh alam akan mendukungmu untuk menggapainya”. Ada quote lain juga yang sangat menarik buatku yakni: ”dimana hatimu berada, disitulah hartamu berada”. Novel ini sudah dipublikasikan ke banyak bahasa dan pertama kali dalam bahasa Inggris pada tahun 1993.

Setelah The Alchemist, beberapa buku Paulo Coelho yang lain aku baca juga seperti: Gunung Ke Lima (The Fifth Mountain), The Devil and Miss Prym, Eleven Minutes, The Zahir dan The Winner Stands Alone. Dari novel Paulo Coelho diatas yang paling aku suka adalah The Alchemist dan The Fifth Mountain. Yang paling tidak kusuka adalah Eleven Minutes dan lucunya buku ini hilang ketika aku dalam perjalanan dari Medan – Jakarta. Sudah setengah buku aku baca tetapi apa yang diceritakan didalam kurang menarik aku rasa. Barangkali sudah nasibnya itu buku tertinggal di pesawat waktu itu.

Pauolo Coelho lahir di Rio de Janeiro, Brazi l24 August 1947. Bakat menulisnya sudah mulai terlihat sejak dia kecil ketika dia bersekolah di sekolah Jesuit dimana waktu itu dia sudah memenangkan banyak lomba menulis. Tidak pernah orang tuanya membayangkan Paulo Coelho muda kelak akan menjadi seorang penulis karena mereka sangat berharap dia bisa menjadi seorang pengacara atau arsitek. Sebelum menjadi seorang penulis, Paulo Coelho bekerja sebagai pengarang lagu. Beberapa lagunya menjadi hits di Brazil pada waktu itu berkat kolaborasinya dengan musisi Brazil seperti Raul Seixas.

Buku pertama Paulo Coelho adalah Hell Archives terbit pada tahun 1982 dan Practical Manual of Vampirism, namun kedua buku ini gagal. Nama Paulo Coelho mulai ‘terdengar’ di dunia sastra sejak bukunya Sang Alkemis keluar tahun 1988. Terbit pertama kali dalam bahasa Portugis berjudul O Alquimista. Buku Sang Alkemis menjadi buku the best seller dengan terjemahan lebih dari 70 bahasa. Mendapatkan penghargaan dari Guinnes World Record sebagai buku paling banyak diterjemahan ke berbagai macam bahasa. Setelah sukses dengan buku tersebut disusul kemudian dengan mengeluarkan buku – bukunya yang lain yang hampir tiap tahun mengeluarkan judul baru. Brida (1990), The Gift (1991), The Valkyries (1992), Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis (1994), Gunung Kelima (1996), Love Letters from a Prophet (1997), Veronika Memutuskan Mati (1998), Iblis dan Nona Prym (2000), Fathers Sons and Grandsons (2001), Sebelas Menit (2003), The Genie and the Roses (2004), Zahir (2005), Like The Flowing River (2006), Life: Selected Quotations (2007), The Winner Stands Alone (2008), Aleph (2010). Secara keseluruhan buku Paulo Coelho sudah tersebar di lebih dari 150 negara dan sudah terjual lebih dari 100 juta buku.

Paulo Coelho juga sudah mendapatkan banyak penghargaan atas karya – karyanya. Goldene Feder Award (Jerman 2005), Golden Medal of Galicia ( Spanyol 1999), dan Distinction of Honour from the City of Odense (Denmark 2007) adalah beberapa diantaranya. Beberapa bukunya juga diadapatsikan menjadi acara televisi. Tahun 1998, televisi Brazil TV Manchete menayangkan sebuah miniseri dengan 52 episode berdaraskan bukunya yang berjudul ‘Brida’. Tahun 2009 bukunya ‘Veronika Memutuskan Mati’ juga dibuat menjadi film oleh Warner Bros.

Paulo Coelho adalah penulis yang sangat dekat dengan penggemarnya. Dia memiliki blog sendiri: Paulo Coelho Blog tempat dimana dia bisa berinteraksi dengan penggemarnya dari seluruh dunia dengan beragam pilihan bahasa. Paulo Coelho juga memiliki Fan Page dengan hampir 7 juta juga penggemar ( Nov 2011).

The Fifth Mountain

November 14th, 2011 1 comment

the fifth mountain

Kisah Elia - The Fifth Mountain

Satu lagi novel yang sangat kunikmati tulisan Paulo Coelho, The Fifth Mountain. Sebenarnya aku sangat pemilih dalam membaca novel. Tetapi buku yang satu ini sangat menarik menurutku buat dibaca seperti halnya novel Coelho yang lain Sang Alkemis. Apa yang menarik dari beberapa novel Coelho buatku adalah karena kemampuan Paulo Coelho memasukkan pesan – pesan moral yang sangat penting bagi pembacanya. Tidak semua buku Coelho yang aku suka, beberapa yang sudah kubaca dan sedikit menyesal setelah membacanya, The Zahir, Eleven Minutes, Iblis dan Miss Prym. Tapi sudahlah….

Buku The Fifth Mountain ini sangat bagus bagi anak – anak muda dengan mencontoh teladan Elia. Ketika banyak cobaan yang kadang karena kurang kematangan dan pengalaman hidup, seringkali terlalu mudah membuat keputusan yang salah atau dengan mudahnya menyerah. Elia yang pada usia 23 tahun, ketika hasrat, cinta dan ambisinya sedang dalam masa puncaknya, Tuhan mematangkan dia lewat banyak kepahitan hidup.  Pernah mempertanyakan kebenaran kasih Tuhan ketika dia sudah melakukan apa yang Dia perintahkan untuknya tetapi bukan kebahagiaan yang dia terima malah pahitnya hidup semakin banyak. Pernah mencintai wanita yang sangat dia dambakan tetapi Tuhan berkata lain. Disaat dia sangat membutuhkan pertolongan Nya untuk keselamatan wanita itu, justru sepertinya Tuhan tidak peduli. Namun dengan berbagai cobaan itulah Elia menjadi lebih matang, lebih dewasa, menjadi lebih mengerti akan kasih Tuhan yang sebenarnya. Apa yang manusia pikirkan memang belum tentu sesuai dengan kehendak Nya.

Ada satu hal yang menarik buatku dan sampai sekarang kadang masih kupikirkan, barangkali mungkin ini juga persamaan antara novelnya The Alchemist dan The Fifth Mountain ini, atau barangkali gaya Coelho menceritakan pesan moral dalam kedua novel ini. Di novelnya The Alchemist, Santiago berkelana jauh dari kampung halamanya untuk mencari mimpinya. Di bukunya The Fifth Mountain ini, Elia juga berkelana jauh dari negerinya sesuai dengan apa yang Tuhan perintahkan kepada dia. Namun kedua tokoh ini toh akhirnya memang kembali ke negerinya setelah mencapai mimpi – mimpi mereka, setelah mereka siap. Hmm…, kalau direnungkan mungkin kedua tokoh ini perlu juga dicontoh anak – anak muda sekarang ini. Setelah berhasil untuk kembali membangun negerinya.

The Fifth Mountain, menurutku novel yang sangat berharga untuk dibaca.

Memberi itu indah

November 11th, 2009 2 comments

NikolausSt. Nikolaus, seorang santo dari abad keempat yang menjadi ilham lahirnya tokoh modern bernama Santa Claus atau Sinterklas, dilahirkan dekat Myra (sekarang Turki). Myra adalah sebuah kota pelabuhan di Laut Mediterania dengan jalur pelayaran yang ramai yang menghubungkan kota-kota pelabuhan laut di Mesir, Yunani dan Roma. Kapal-kapal yang lalu lalang penuh dengan muatan beras serta berbagai macam barang, tiba dengan selamat di pelabuhan, setelah terlepas dari bahaya badai dan bajak laut.

Siapakah St. Nikolaus?

Nikolaus berasal dari salah satu keluarga pedagang kaya di Myra. Namun demikian, ia bukanlah anak yang dimanjakan oleh keluarganya. Ayah dan ibunya mengajarkan kepadanya untuk bersikap murah hati kepada orang lain, terutama kepada mereka yang membutuhkan pertolongan. Dari situ Nikolaus belajar bahwa menolong orang lain menjadikan jiwa bertambah kaya.

Suatu hari, secara kebetulan, Nikolaus mendengar tentang seorang kaya di Myra yang jatuh miskin karena usahanya bangkrut. Bapak itu memiliki tiga orang anak gadis yang cantik, yang sudah cukup usianya untuk menikah. Tetapi ia tidak mempunyai cukup uang untuk menikahkan anak-anak gadisnya. Lagi pula, pikirnya, siapa yang mau menikahi mereka karena ayahnya sudah jatuh miskin? Karena sudah tidak punya uang lagi untuk membeli makanan, ayah yang putus asa itu memutuskan untuk menjual salah seorang anak gadisnya sebagai budak. Setidak-tidaknya anggota keluarga yang lain dapat bertahan hidup, demikian pikirnya.

Malam sebelum anak gadis yang sulung dijual, Nikolaus dengan satu tas kecil berisi emas di tangannya,  mengendap-endap masuk halaman rumah mereka, melemparkan tas yang dibawanya melalui jendela yang terbuka, dan sekejap kemudian menghilang dalam kegelapan malam.

Keesokan harinya, sang ayah menemukan tas berisi emas tergeletak di lantai dekat tempat tidurnya. Ia tidak tahu dari mana datangnya. “Mungkin ini emas palsu,” pikirnya.Tetapi setelah diujinya, ia tahu bahwa itu sungguh-sungguh emas. Ia meneliti daftar teman serta rekan dagangnya. Tak seorang pun dari mereka yang mungkin memberikan emas itu kepadanya.

Sang ayah jatuh bersimpuh dengan air mata mengalir deras membanjiri pipinya. Ia mengucap syukur kepada Tuhan atas anugerah-Nya yang indah ini. Semangatnya bangkit kembali setelah padam sekian lama, karena seseorang secara tak disangka-sangka berbelas kasih kepadanya. Ia mempersiapkan pernikahan putri sulungnya. Masih tersisa cukup uang bagi mereka semua untuk hidup selama hampir setahun. Seringkali ia bertanya-tanya: siapa gerangan yang memberinya emas?

Dengan berakhirnya tahun, keluarga mereka tidak lagi memiliki apa-apa. Sang ayah, yang sekali lagi putus asa dan tidak menemukan adanya jalan keluar, memutuskan agar anak gadisnya yang kedua harus dijual. Tetapi, Nikolaus mendengar tentang hal ini, ia datang malam hari dekat jendela rumah mereka dan melemparkan satu tas berisi emas seperti yang ia lakukan sebelumnya. Keesokan harinya sang ayah bersukacita dan bersyukur kepada Tuhan serta memohon pengampunan dari-Nya karena telah berputus asa. Namun demikian, siapakah gerangan orang misterius yang memberi mereka hadiah yang luar biasa ini?

Sejak itu, setiap malam sang ayah selalu mengawasi jendela rumahnya. Dengan berakhirnya tahun, berakhir jugalah uang simpanan mereka. Suatu hari, dalam keheningan malam, ia mendengar langkah orang mengendap-endap dekat rumahnya dan tiba-tiba satu tas berisi emas jatuh ke atas lantai. Sang ayah cepat-cepat bangkit dan lari untuk menangkap orang misterius itu. Setelah beberapa saat berlari, ia berhasil menangkap dan mengenali Nikolaus, karena pemuda itu berasal dari keluarga terpandang di kota.

“Mengapa engkau memberikan emas kepada kami?” tanya sang ayah.

“Karena Bapak membutuhkannya,” jawab Nikolaus.

“Tetapi mengapa engkau menyembunyikan diri dari kami?”

“Karena memberi itu indah, jika hanya Tuhan saja yang mengetahuinya.”

Ketika Uskup Myra wafat, para imam, tokoh-tokoh kota, serta para uskup sekitarnya berkumpul bersama di katedral untuk memilih seorang uskup baru. Mereka berdoa serta memohon kepada Tuhan untuk menunjukkan kepada mereka siapakah yang pantas untuk jabatan itu. Dalam suatu mimpi, Tuhan berfirman kepada salah seorang dari mereka bahwa besok pagi haruslah mereka semua berdoa bersama. Sementara mereka berdoa, seseorang akan masuk lewat pintu katedral. Orang itulah yang harus mereka pilih.

Ternyata Nikolaus-lah yang masuk ke dalam katedral. Penduduk kota segera memilihnya menjadi uskup mereka, karena mereka tahu bahwa orang yang sederhana ini, yang perbuatan baiknya telah mereka kenal, telah dipilih Tuhan untuk membimbing mereka.

Sebagai Uskup Myra, Nikolaus menjadi semakin lebih sadar akan kebutuhan banyak orang. Ia akan menjelajahi seluruh penjuru kota untuk menawarkan pertolongannya kepada siapa saja yang sedang berada dalam kesulitan, dan kemudian pergi diam-diam tanpa menunggu ucapan terima kasih. Ia tidak ingin menjadi terkenal. Namun demikian, nama baiknya sebagai seorang kudus semakin tersebar dan tersebar, bahkan tersebar hingga ke kota-kota yang jauh yang belum pernah dikunjunginya.

Nikolaus secara istimewa memberi perhatian agar keluarga-keluarga mempunyai makanan yang cukup serta tempat tinggal yang layak, anak-anak tumbuh dan berkembang, para lanjut usia menempuh hidup mereka dengan martabat dan hormat. Nikolaus amat suka pada para pelaut yang hidup penuh bahaya di lautan. Tanpa kapal-kapal mereka, orang banyak di belahan dunia ini tidak memiliki makanan serta barang-barang seperti yang mereka bawa dalam perdagangan mereka.

Lebih dari semuanya itu, pada masa kini Nikolaus terutama dikenang karena cintanya kepada anak-anak. Semasa hidupnya, ia biasa membagikan hadiah-hadiah kecil kepada anak-anak yang ia jumpai, seperti permen dan mainan. Kelembutan hatinya, yang biasanya juga mengejutkan mereka, menyentuh hati anak-anak, sehingga mereka dapat belajar dari orang kudus ini betapa indahnya memberi itu.

Dalam sosok Santa Claus, yang nama dan aktivitasnya diilhami dari kisah hidup St. Nikolaus, orang kudus ini tinggal bersama kita sekarang.

source: http://www.indocell.net/yesaya/id161.htm