Archive

Archive for the ‘Suara Hati’ Category

Cinta platonik

April 23rd, 2009 1 comment

cinta platonikCinta platonik. Ini adalah pertama kali kudengar frasa ini. Apa artinya? Termasuk jenis cinta yang baikkah? Barangkali apa yang kutulis ini belumlah lengkap atau malah kurang benar menceritakan tentang apa itu cinta platonik. Karena ternyata setelah mencari kesana  – kemari dengan bantuan Om Google, perlu pemahaman yang mendalam untuk mengerti frasa ini. Harus menyelam lebih dalam menyusuri karya filsuf terkenal Plato, Symposium. Karena dari sanalah ia bermula.  Masukan dari rekan – rekan akan menyempurnakannya atau mungkin memperbaikinya.

Cinta platonik sang penyair

Aku tertarik akan frasa ini karena kemarin aku baru membaca sebuah artikel yang membahas riwayat singkat sang penyair Khalil Gibran. Antara Cinta, Wanita dan Nestapa. Dituliskan kalau cinta Sang Penyair kepada Mary Haskell didasarkan pada cinta platonik. Berawal dari situ, aku jadi penasaran untuk tau lebih banyak tentang cinta platonik. Sepertinya dalam kehidupan Sang Penyair, ketiga unsur ini sangat erat behubungan. Berbicara tentang nestapa, siapa yang tidak tau. Semenjak kecil Penyair sudah sering dikunjungi Sang Nestapa. Kalau berbicara tentang wanita, memang jelas Sang Penyair mempunyai banyak kisah dengan wanita. Mulai dari ibunya, saudarinya, dan semua kekasih yang dicintainya.  Namun berbicara tentang cinta antar dua insan yang berbeda, tidak seperti yang umumnya kita harapkan. Seperti mengutip kalimat dari artikel tersebut “tidak satupun yang mengukir mahligai perkawinan”. Ya, mungkin seperti itulah ujud cinta Sang Penyair, kebebasan dari keterikatan hati walupun tidak berujung pada penyatuan raga.

Menurut Wikipedia terjemahan bahasa Indonesia, cinta platonik adalah sebuah istilah yang dipakai untuk menyebut sebuah relasi yang sangat afektif, tetapi di mana unsur-unsur rasa ketertarikan secara seksual tidak terdapat, terutama apabila hal ini justru malahan diperkirakan ada. Dalam bahasa latin istilah ini disebut juga amor platonicus.

Apakah cinta jenis ini baik? Seperti dalam kisah Sang Penyair, dia mencurahkan cinta yang dirasakannya itu dalam bentuk kata – kata yang indah. Artinya dia memang bisa mengatur perasaannya, dia bisa menyalurkan imjinasinya yang sekarang ini bisa kita nikmati lewat surat – surat cintanya kepada Mary. Hal yang baik menurutku. Namun akan menjadi tidak baik bila perasaan itu menjadi belenggu bagi si pelakon cinta karena cinta ini tidak memiliki perwujudan nyata. Cinta ini hanya ada di imajinasi. Perlu usaha untuk mengatur imajinasi ini sehingga nantinya si pelaku cinta siap mental jikalau berakhir tidak seperti yang diharapkannya. Semoga mahluk ini memahaminya.

Cinta Platonik – Dari berbagai bacaan.

My Journey Search:

hitam putih

April 17th, 2009 2 comments

hitamHitam. Kau datang lagi disaat aku sedang lengah. Saat lengah…. Apa aku yang terlalu memikirkanmu sehingga dengan mudahnya kau merasuki jiwaku? Seperti sudah menjadi darahku, kau selalu ada walau tak kuharap.

Putih, dimana kau saat hatiku membutuhkanmu? Dimana kau saat jiwaku rapuh?

Mencoba untuk berontak tapi perlawanan seperti tak berarti. Ketika babak ini berakhir penyesalan seperti tiada guna. Hari ini, esok, lusa dan seterusnya kalian akan selalu datang. Silih berganti. Entah kapan semua ini usai …

My Journey Search:

Categories: Suara Hati Tags: , , ,

Kemana engkau akan membawaku?

April 13th, 2009 4 comments
kata hatiBarangkali apa yang kurasakan saat ini tergambar dalam rangkaian kata hati yang dituliskan Khalil Gibran dalam bukunya Secrets of the heart. Aku sangat menikmati bab yang satu ini, seperti membaca kisah sendiri. Mencoba menafsirkan apa yang dirasakan Khalil Gibran ketika menulis ini, merefleksikan terhadap apa yang kurasakan sekarang.

Gadis Cantik Yang Menawan

Kemanakah engkau menuntunku wahai Gadis Cantik Yang Menawan, dan berapa lamakah aku harus mengikutimu di jalan yang kasar ini, yang penuh dengan duri? Berapa lamakah jiwa kita naik turun secara menyakitkan di jalan berkelok – kelok serta berbatu – batu ini?

Seperti seorang anak yang mengikuti ibunya, aku mengikuti engkau, memegangi ujung pakaiannmu, melupakan impian – impianku dan memandangi kecantikanmu, membutakan mataku dibawah tenungmu terhadap hantu – hantu yang melayang – layang diatasku, dan tertarik kepadamu oleh kuasa batinku yang tidak dapat kusangkal.

Berhentilah sejenak dan biarlah kulihat wajahmu; pandanglah aku sejenak; mungkin aku akan mengetahui rahasia hatimu lewat matamu yang asing. Berhenti dan beristirahatlah, sebab aku letih, dan jiwaku gemetar dengan ketakutan di jalan yang mengerikan ini. Berhentilah, sebab kita telah sampai di persimpangan jalan yang mengerikan itu dimana Maut merangkul Kehidupan.

Wahai Gadis Cantik, dengarkanlah aku. Sebelumnya, aku bebas seperti burung, menjelajahi lembah – lembah serta hutan – hutan, dan terbang diatas langit luas. Menjelang malam aku beristirahat di dahan – dahan pohon, merenungkan bait – bait serta istana – istana di Kota Awan Berwarna – warni yang dibangun oleh Matahari di pagi hari dan dihancurkan menjelang senja.

Sebelumnya aku seperti pikiran, berjalan sendirian dan berdamai dengan Timur maupun Barat Alam Semesta, bersukacita dengan keindahan dan sukacita Kehidupan, dan menyelidiki misteri keberadaan yang luar biasa.

Sebelumnya aku seperti mimpi, mencuri di balik sayap- sayap ramah malam, masuk lewat jendela – jendela tertutup ke dalam kamar – kamar padar gadis, menggoda serta membangkitakan pengharapan mereka. Lalu aku duduk disamping para pemuda dan kubangkitkan hasrat – hasrat mereka. Lalu kujelajahi kamar – kamar para manula dan kutembus pikiran mereka yang penuh kecukupan diri yang damai.

Lalu engkau menangkap khayalanku, dan semenjak saat yang menghipnotis itu aku merasa seperti tawanan yang menyeret belenggunya dan terdororng ke dalam tempat yang tidak kukenal. Aku menjadi mabuk dengan anggurmu yang manis yang telah mencuri kehendakku, dan sekarang kutemukan bibirku mengecup tangan yang memukulku dengan keras. Tidak dapatkah engkau lihat dengan mata jiwamu, hancurnya hatiku? Berhentilah sejenak; aku sedang mengumpulkan kembali kekuatanku dan melepaskan kaki – kakiku yang letih dari rantai – rantai yang berat. Telah kuhancurkan cawan dari mana kuminum racunmu yang nikmat. Tetapi sekarang aku berada di negeri yang asing, dan bingung; jalan manakah yang harus kutempuh?

Kebebasanku telah dipulihkan; maukah engkau sekarang menerimaku sebagai sahabat yang rela, yang memandang Matahari dengan mata bersinar – sinar dan mencengkram api dengan jari – jemari yang tidak gemetar?

Telah kulepaskan sayap – sayapku dan aku siap naik; maukah engkau menemani seorang pemuda yang menghabiskan hari – harinya menjelajahi pegungungan seperti rajawali tunggal, dan menyia – nyiakan malam – malamnya mengembara di padang gurun seperti singa yang gelisah?

Maukah engaku mencukupkan dirimu dengan kasih sayang dia yang memandang Kasih hanya sebagai penghibur, dan tidak mau menerimanya sebagai tuannya?

Maukah engaku menerima hati yang mengasihi, tetapi tidak pernah berserah? Dan membakar tetapi tidak meluluhkan? Akankah engkau tentram dengan jiwa yang bergetar dihadapan badai, tetapi tidak pernah menyerah kepadanya? Maukah engaku menerima seseorang sebagai sahabat, yang tidak memperbudak maupun mau diperbudak? Maukah engaku memilikiku tetapi tidak menguasaiku, dengan mengambil tubuhku tetapi tidak hatiku?

Kalau mau, inilah tanganku – peganglah dengan tanganmu yang indah dan inilah tubuhku – rangkullah dia dengan lenganmu yang penuh kasih; dan inilah bibirku – kecuplah mereka dengan kecupan yang dalam serta memabukkan.

Dari: Kata Hati, Secrets of the heart (Khalil Gibran)