Google

my journey

hal apapun layak untuk ditulis
  • Home
  • About Me

Ketika cinta mendatangimu…

Deo | May 6, 2009 | 5:29 am

love

image source: gibran-academy.com

Ketika cinta memanggilmu, ikutlah dia. Walaupun jalannya berat dan curam.
Dan kalau sayapnya menaungimu, berserahlah kepadanya,
Walaupun pedang yang tersembunyi diantara sayap – sayapnya mungkin melukaimu.
Dan kalau ia berbicara kepadamu, percayalah kepadanya,
Walaupun suaranya mungkin menghancurkan impianmu seperti angin utara memporak – porandakan kebun.

Sebab cinta itu memahkotaimu sekaligus menyalibkanmu.
Ia membuatmu tumbuh sekaligus memangkasmu.
Ia naik setinggi serta memelihara ranting – rantingmu yang paling lembut yang bergoyang dibawah matahari,
Sekaligus ia turun serendah akarmu dan menggoncangnya dibawah.

Seperti berkas jagung ia mengumpulkanmu bagi dirinya sendiri.
Ia kelupas kulitmu hingga engkau telanjang.
Ia mengayakmu agar terbebas dari sekam.
Ia menggilingmu hingga putih bersih.
Ia mengolahmu hingga lentur.
Lalu ia menyuruhmu ke apinya yang suci, agar engkau menjadi roti kudus untuk perjamuan Allah yang kudus.

Semua ini akan diperbuat cinta kepadamu agar engkau mengetahui rahasia hatimu, dan dalam pengetahuan tersebut menjadi bagian dari hati kehidupan.

Tetapi kalau dalam ketakutanmu engkau hanya mencari kedamaian serta kesenangan cinta,
Maka lebih baik engkau tutupi ketelanjanganmu dan engkau tinggalkan tempat penggilingan cinta,
Masuk ke dunia tak bermusim dimana engkau akan tertawa tetapi tidak semua tawamu, engkau akan menangis tetapi tidak semua air matamu.

Cinta tidak memberi apa – apa selain dirinya sendiri dan tidak mengambil apa – apa selain dari dirinya sendiri.
Cinta tidak akan memiliki kecuali bila cinta dimiliki.
Sebab cukuplah cinta untuk dirinya sendiri.

Kalau engkau mencintai, janganlah berkata , “Allah ada dalam hatiku”, melainkan, “Aku berada didalam hati Allah”.
Dan janganlah menyangka bahwa engkau dapat mengatur arah cinta, sebab cinta, kalau menganggapmu layak, akan mengarahkan jalanmu.

Cinta tidak memiliki hasrat lain selain untuk memenuhi dirinya sendiri.
Tetapi bila engkau mencintai dan berhasrat, biarlah hal ini menjadi hasratmu.
Luluh dan menjadi seperti sungai yang menyenandungkan melodi hingga kejauhan malam.
Untuk mengetahui rasa sakit dari kelembutan.
Untuk terluka oleh pengertianmu sendiri akan cinta.
Untuk berdarah dengan rela dan penuh sukacita.
Untuk bangun menjelang fajar dengan hati yang bersayap dan mengucap syukur atas hari yang penuh cinta.
Untuk beristrahat di waktu siang dan merenungkan kenikmatan cinta.
Untuk pulang menjelang malam dengan rasa syukur,
Dan tidur dengan sebuah doa untuk dia yang kamu cintai dalam hatimu serta nyanyian pujian dibibirmu.

Dari: The Prophet - Khalil Gibran. Classic Press.

Comments
No Comments »
Categories
Suara hati
Tags
cinta, hati, khalil gibran
Comments rss Comments rss
Trackback Trackback

Kemana engkau akan membawaku?

Deo | April 13, 2009 | 5:45 pm
heartsBarangkali apa yang kurasakan saat ini tergambar dalam rangkaian kata hati yang dituliskan Khalil Gibran dalam bukunya Secrets of the heart. Aku sangat menikmati bab yang satu ini, seperti membaca kisah sendiri. Mencoba menafsirkan apa yang dirasakan Khalil Gibran ketika menulis ini, merefleksikan terhadap apa yang kurasakan sekarang.

Gadis Cantik Yang Menawan

Kemanakah engkau menuntunku wahai Gadis Cantik Yang Menawan, dan berapa lamakah aku harus mengikutimu di jalan yang kasar ini, yang penuh dengan duri? Berapa lamakah jiwa kita naik turun secara menyakitkan di jalan berkelok – kelok serta berbatu – batu ini?

Seperti seorang anak yang mengikuti ibunya, aku mengikuti engkau, memegangi ujung pakaiannmu, melupakan impian – impianku dan memandangi kecantikanmu, membutakan mataku dibawah tenungmu terhadap hantu – hantu yang melayang – layang diatasku, dan tertarik kepadamu oleh kuasa batinku yang tidak dapat kusangkal.

Berhentilah sejenak dan biarlah kulihat wajahmu; pandanglah aku sejenak; mungkin aku akan mengetahui rahasia hatimu lewat matamu yang asing. Berhenti dan beristirahatlah, sebab aku letih, dan jiwaku gemetar dengan ketakutan di jalan yang mengerikan ini. Berhentilah, sebab kita telah sampai di persimpangan jalan yang mengerikan itu dimana Maut merangkul Kehidupan.

Wahai Gadis Cantik, dengarkanlah aku. Sebelumnya, aku bebas seperti burung, menjelajahi lembah – lembah serta hutan – hutan, dan terbang diatas langit luas. Menjelang malam aku beristirahat di dahan – dahan pohon, merenungkan bait – bait serta istana – istana di Kota Awan Berwarna – warni yang dibangun oleh Matahari di pagi hari dan dihancurkan menjelang senja.

Sebelumnya aku seperti pikiran, berjalan sendirian dan berdamai dengan Timur maupun Barat Alam Semesta, bersukacita dengan keindahan dan sukacita Kehidupan, dan menyelidiki misteri keberadaan yang luar biasa.

Sebelumnya aku seperti mimpi, mencuri di balik sayap- sayap ramah malam, masuk lewat jendela – jendela tertutup ke dalam kamar – kamar padar gadis, menggoda serta membangkitakan pengharapan mereka. Lalu aku duduk disamping para pemuda dan kubangkitkan hasrat – hasrat mereka. Lalu kujelajahi kamar – kamar para manula dan kutembus pikiran mereka yang penuh kecukupan diri yang damai.

Lalu engkau menangkap khayalanku, dan semenjak saat yang menghipnotis itu aku merasa seperti tawanan yang menyeret belenggunya dan terdororng ke dalam tempat yang tidak kukenal. Aku menjadi mabuk dengan anggurmu yang manis yang telah mencuri kehendakku, dan sekarang kutemukan bibirku mengecup tangan yang memukulku dengan keras. Tidak dapatkah engkau lihat dengan mata jiwamu, hancurnya hatiku? Berhentilah sejenak; aku sedang mengumpulkan kembali kekuatanku dan melepaskan kaki – kakiku yang letih dari rantai – rantai yang berat. Telah kuhancurkan cawan dari mana kuminum racunmu yang nikmat. Tetapi sekarang aku berada di negeri yang asing, dan bingung; jalan manakah yang harus kutempuh?

Kebebasanku telah dipulihkan; maukah engkau sekarang menerimaku sebagai sahabat yang rela, yang memandang Matahari dengan mata bersinar – sinar dan mencengkram api dengan jari – jemari yang tidak gemetar?

Telah kulepaskan sayap – sayapku dan aku siap naik; maukah engkau menemani seorang pemuda yang menghabiskan hari – harinya menjelajahi pegungungan seperti rajawali tunggal, dan menyia – nyiakan malam – malamnya mengembara di padang gurun seperti singa yang gelisah?

Maukah engaku mencukupkan dirimu dengan kasih sayang dia yang memandang Kasih hanya sebagai penghibur, dan tidak mau menerimanya sebagai tuannya?

Maukah engaku menerima hati yang mengasihi, tetapi tidak pernah berserah? Dan membakar tetapi tidak meluluhkan? Akankah engkau tentram dengan jiwa yang bergetar dihadapan badai, tetapi tidak pernah menyerah kepadanya? Maukah engaku menerima seseorang sebagai sahabat, yang tidak memperbudak maupun mau diperbudak? Maukah engaku memilikiku tetapi tidak menguasaiku, dengan mengambil tubuhku tetapi tidak hatiku?

Kalau mau, inilah tanganku – peganglah dengan tanganmu yang indah dan inilah tubuhku – rangkullah dia dengan lenganmu yang penuh kasih; dan inilah bibirku – kecuplah mereka dengan kecupan yang dalam serta memabukkan.

Dari: Secrets of the heart (Khalil Gibran)
Comments
4 Comments »
Categories
Suara hati
Tags
khalil gibran, secrets of the heart
Comments rss Comments rss
Trackback Trackback

Tulisan

  • Dari buku
  • Dari film
  • Global
  • Indonesiaku
  • Suara hati

Rekans

  • Bang Irfan
  • Daniel Simarmata
  • Fery Lambe
  • Jeperis Nahampun
  • Kris Bheda
  • Kweklina
  • Leonard Sitinjak
  • Philippines
  • Pormadi
  • Tentang ‘liebe
  • Yang-Kung

Umum

  • K!ck Andy
  • Neuro Linguistic Programming
  • Online Dictionary
  • Site Paulo Coelho
  • Wikipedia
  • Wikipedia Indonesia

Arsip

Perjalananku

July 2010
M T W T F S S
« Mar    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Kunjungi aku

Keluarga Pelangi
rss Comments rss valid xhtml 1.1 design by jide powered by Wordpress get firefox